Suara Kita !

  0
deniansyah - 2016-08-22 22:50:03
TANGGAPAN DHARMASRAYA TERKAIT IMPLIKASI PENELITIAN YANG DILAKUKAN PADA DESEMBER 2015 Pada bulan agustus ini marak sekali dengan berita akan kenaikan harga rokok hingga menembus Rp. 50.000 per bungkus. dalih nya implikasi dari kenaikan harga rokok dapat mengurangi kebiasaan mayarakat merokok dan merupakan musuh sekaligus pembunuh bagi bangsa. Ade komarudin,ketua DPR RI sekaligus politisi partai golkar ini menyetujui adanya kenaikan harga rokok pada jum’at (19/08) siang di kompleks parlemen,senayan,jakarta. Ade komarudin menyetujui hal ini terkait menanggapi hasil penelitian pusat kajian ekonomi dan kebijakan hasil survey ( desember 2015 ) Fakultas kesehatan manusia universitas Indonesia menyebutkan 46 persen pecandu rokok akan berhenti bila harga rokok menembus angka Rp.50.000 perbungkus.semial hal ini disetujui pemerintah, tak heran jutaan perokok aktif bakalan kelimpungan. Pasal nya jika nanti nya pemerintah jokowi – jk menyetujui akan kenaikan harga rokok yang menembus hingga 5 kali lipat maka bakal menimbulkan efek domino yang fatal. Ada hal yang menarik terkait muncul nya penelitian yang berimplikasi akan kenaikan harga rokok yang menembus hingga Rp. 50.000 yaitu banyak nya pro dan kontra dari masyakat. karena hal ini banyak memicu pengangguran di indonesia walaupun hal ini juga memicu akan penghasilan APBN akan melambung tinggi dari implikasi bea cukai yang tinggi. Kenapa ada masyarakat yang pro terhadap implikasi dari penelitian yang dilakukan pada desember 2015 ? Banyak sekali masyarakat menilai implikasi dari kenaikan harga rokok akan mengurangi jumlah perokok, mengurangi jumlah kematian setiap hari nya, mengurangi jumlah virus ataupun wabah penyakit yang menjangkit dalam setiap diri perokok aktif. Terkait hal itu masyarakat banyak sekali menyetujui hal ini apalagi dari kalangan perokok pasif yang selama ini merasa tersesak akibat banyak di sekeliling mereka yang bertindak sebagai pelaku perokok aktif yang telah di survey terhadap 1.000 responden (desember 2015 ) dan di dapatkan hasil 80,3 persen menyetujui kenaikan harga rokok . Kenapa ada masyarakat yang kontra terhadap implikasi dari penelitian yang di lakukan pada bulan desember ? Para kalangan prokok aktif spontan menolak kenaikan harga rokok yang menembus hingga Rp. 50.000 karena bertambah besar nya biaya pengeluaran di bidang pengeluaran rokok. Terkait kenaikan harga rokok juga akan mengimbas kepada perusahaan rokok yang berakibat gulung tikar akibat menurun nya omsetisme pemasukan dan berimplikasi terhadap meningkat nya jumlah pengangguran di bangsa ini. Bukan hanya perusahaan – perusahaan rokok saja yang terkena imbas bisa jadi jutaan petani tembakau juga terkena imbas nya dan berapa persen lagi pengangguran bertambah. Terkait hal ini apakah perokok aktif di kabupaten dharmasraya juga akan merasakan hal tersebut ? tentu. Saya banyak bertanya – tanya seketika saya ngumpul – ngumpul dan sering disebut orang – orang dharmasraya ota kadai, saya sering menanyakan terkait hal ini. “kebijakan pemerintah ini sangat bagus.tapi, hal ini tidak akan memicu perokok aktif untuk berhenti merokok karna banyak orang yang sudah ketergantungan terhadap zat nikotin yang terkandung di dalam rokok dan bisa berakibat perokok aktif meilih jalan pintas yaitu linting sendiri tembakau yang ada dan juga membuat akan semakin marak nya rokok – rokok ilegal yang beredar di indonesia akibat tinggi nya bea cukai yang berimbas kurang nya pendapatan sektor cukai ” ujar salah seorang dalam anggota ota kadai. Pemikiran saya masyarakat dharmasraya yang berada di kalangan perokok aktif yang sudah ketergantungan zat nikotin akan mencari inisiatif – inisiatif untuk mengatasi kenaikan harga rokok yang melambung tinggi. Mungkin saja ada yang menanam tembakau sendiri dan ngelinting sendiri ataupun ada juga yang mencari dan membeli rokok – rokok ilegal dengan jumlah yang tinggi dan di jadikan sebagai storage untuk persiapan. Terkait implikasi kenaikan harga rokok yang berimbas terhadap perokok – perokok aktif yang ada di bumi tau jo nan ampek ternyata jauh sebelum beredar nya wacana – wacana dan marak nya kenaikan harga rokok di balik bumi ini terkandung sebuah nagari ( desa ) yang menjadi nagari ( desa ) yang bebas asap rokok di negara indonesia diantara ada 10 desa yang bebas asap rokok di indonesia. Desa - Desa bebas asap rokok yaitu “ Desa sitiung ( Sumatera Barat ), Desa Bulaksari 7 ( Jawa Timur ), Desa bone-bone ( Sulawesi Selatan ), Desa Ngunut ( Yogyakarta ), Desa Cikidang ( Jawa Tengah ), Desa Celep ( Jawa Tengah ), Dusun Karangmulyo ( Jawa Timur ), Dusun Muhajirun (Lampung ), Desa Sidoluhur ( Yogyakarta ), Desa Singosaren ( Yogyakarta )”. Nagari ( desa ) sitiung merupakan Nagari ( desa ) yang pertama bebas asap rokok di bumi tau jo nan ampek tepat nya di kecamatan sitiung. Masyarakat nya sangat di tegaskan wali nagari nya untuk tidak merokok di kawasan terbuka dan jika seandai nya kedapatan masyarkat nya yang merokok di sembarang tempat maka akan di kenakan sanksi. Bukan hanya dari perokok nya bahkan warung – warung yang menjual sembako maupun kedai - kedai di nagari ini pun akan dilarang juga untuk menjual rokok. Memang sih Nagari ( desa ) ini bisa menjadi inspirasi bagi nagari ( desa ) - nagari ( desa ) yang lain nya. Pemikiran saya jika seandai nya semua Nagari ( desa ) yang ada di bumi tau jo nan ampek ini mengikuti jejak nagari sitiung, saya rasa penyebaran dan peningkatan polusi akan terkurangi dan bisa jadi bumi tau jo nan ampek akan meraih ataupun menjadi kabupaten yang pertama bebas asap rokok di indonesia dan menjadi sebuah icon kabupaten dharmasraya. Bagaimana tanggapan mahaiswa yang berdomisili di perguruan tinggi dharmasraya ? Ketika sedang marak – marak nya wacana tentang implikasi penelitian pada desember 2015 dan Desa bebas asap rokok pertama di indonesia yang ada di bumi tau jo nan ampek sengaja saya bertanya - tanya kepada sebagian mahasiswa yang jumpai rata - rata jawaban mereka sama terfokus lagi terhadap jawaban ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) Universitas Dharmas Indonesia ( UNDHARI ) yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta ternama yang bernaung di bawah yayasan Ampang Kuranji dan di bina oleh Dra. Elviana, M.Si ( Aggota DPR RI ) dan termasuk perguruan tinggi yang sudah banyak berkontribusi terhadap kabupaten Dharmasraya, “ terkait kenaikan harga rokok menembus hingga Rp. 50.000 tersebut, saya rasa banyak sekali masyarakat akan berhenti merokok dan banyak sekali perusahaan – perusahaan rokok akan gulung tikar imbas dari omset pemasukan mereka yang turun drastis dan berapa banyak pengangguran yang akan muncul di bangsa ini. Saya juga merasa bangga walaupun saya bukan asli berdomisili di dharmasraya.tapi sebagai mahasiswa yang sekarang berdomisili di dharmasraya merasa sangat bangga memiliki kabupaten yang mengandung nagari ( desa ) yang menjadi nagari pertama bebas asap rokok di indonesia dan bila perlu kabupaten dharmasraya bisa menjadi kabupaten yang bebas asap rokok dan di mana – mana terpajang icon no smoking area” ujar ketua BEM UNDHARI ( Arifuddin ). Berbicara masalah pengangguran yang bermunculan dari imbas kenaikan harga rokok ini maka akan macam – macam permasalahan dan pertanyaan yang muncul di pikiran saya. Apakah entitas pengangguran akan bertambah lagi ? pada hal pada februari 2016 ini entitas pengangguran menurun di bandingkan pada tahun 2015 lalu. Tapi, jika seandai nya imbas dari kenaikan harga rokok ini perusahaan – perusahaan rokok akan gulung tikar saya pikir entitas pengangguran akan membengkak di negara indonesia.